AYOPRENEUR.COM

Pelaku UMKM Bogor Khawatirkan Kenaikan Tarif Listrik

06 Jan 2017 Hits : 986

Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Bogor, Jawa Barat, mengkhawatirkan kenaikan tarif dasar listrik yang diberlakukan pemerintah awal tahun ini akan berdampak pada usahanya.

"Ya, ada kekhawatiran kalau tarif listrik naik berpengaruh pada biaya produksi. Listrik kami perlukan untuk penerangan dan produksi bahan olahan crispy (keripik)," kata pengusaha keripik jamur dan produk olahan pertanian Ade Rohayati di Kota Bogor, Kamis (5/1) lalu.

Selama ini ia mengeluarkan biaya sebesar Rp200 ribu sampai Rp250 ribu tiap bulan untuk pemakaian listrik konvensional dengan daya 900 VA.

Penggunaan listrik selain untuk kebutuhan rumah tangga, juga untuk keperluan usaha pembiatan keripik jamur, keripik bayam, kacang telor, dan aneka kudapan khas Bogor lainnya.

Dalam satu hari ia memproduksi 10 kg aneka kudapan yang berasal dari olahan produk pertanian, jamur, kacang, bayam dan lainnya. Produk didistribusikan ke sejumlah pelanggan di kelurahan dan juga beberapa sentra penjualan produk pertanian.

"Kebetulan saya anggota Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Kota Bogor di bawah pendampingan Dinas Pertanian," katanya.

Menurut Ade, kekhawatiran kenaikan tarif listrik tersebut dirasakan sejumlah anggota Aspartan Kota Bogor. Komunikasi terkait hal tersebut ramai dibicangkan di grup komunikasi online WhatsApp, maupun pertemuan kelompok.

"Banyak yang mengeluhkan soal kenaikan listrik ini," katanya.

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman menyebutkan kenaikan tarif listrik sangat berdampak bagi masyarakat banyak terutama yang menengah ke bawah yang memerima subsidi listrik 900 VA.

Menurutnya, kenaikan dan pencabutan subsidi listrik 900 VA akan menjadikan masyarakat melemah, ditambah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan biaya surat tanda nomor kendaraan (STNK).

"Jumlah masyarakat penerima subsidi 900 VA di Kota Bogor mencapai 81 ribu kepala keluarga, kalau ini dicabut berdampak pada potensi sosial karena daya beli masyarakat masih rendah," katanya.

Usmar mengatakan jika satu kepala keluarga terdiri dari lima jiwa maka jumlah jiwa yang terdampak pencabutan subsidi dan kenaikan listrik mencapai 406.500 warga.

"Pemkot Bogor berupaya menimalisasi dampak, kalau untuk pencabutan subsidi mungkin bisa, tetapi tahun ini juga terjadi kenaikan tarif dasar listrik, akan berat bebannya," kata Usmar. (fb)

KataWarta.COM