AYOPRENEUR.COM

Instrumen Perlindungan Industri Nasional Masih Sedikit

06 Jan 2017 Hits : 850

Instrumen perlindungan yang dimiliki industri nasional dalam perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) masih sangat sedikit dibandingkan dengan negara lain sehingga industri dalam negeri kurang kompetitif ketika menghadapi FTA.

"Industri dalam negeri harus meiliki instrumen untuk memproteksi. Dibandingkan negara lain, kita relatif masih sangat baik," kata Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Harjanto di Jakarta, Kamis (5/1).

Harjanto menilai, diperlukan instrumen perlindungan yang tepat bagi industri dalam negeri.

"Banyak negara memasuki liberasasi dengan dua instrumen seperti tarif dan non tarif. Negara maju lebih cenderung membangun non tarif measures (NTM)," papar dia.

Uni Eropa memiliki 6.805 NTM, Amerika Serikat memiliki 4.780 NTM, dan Tiongkok memiliki 2.194 NTM. Sementara Indonesia hanya memiliki 272 NTM.

Jumlah ini menyebabkan banyak industri menjadi kurang kompetitif. Saat ini, Indonesia juga baru mengenakan anti dumping ke 48 produk untuk melindungi industri dalam negeri akibat praktik unfair trading.

Sementara negara-negara maju seperti Uni Eropa memiliki 287 produk, Amerika Serikat 229 produk, dan Tiongkok 101 produk yang dikenakan anti dumping.

"Peta negara berkembang seperti India, Thailand, dan Filipina, membutuhkan waktu untuk membangun technical meeting regulation. Kalau kita begitu, nanti ketika sudah jadi, industri sudah sekarat," ujar Harjanto.

Harjanto menambahkan, Indonesia bisa mengarah pada instrument trade remedies atau perlindungan perdagangan yang bisa memberikan perlindungan sementara selama 2 hingga 3 tahun.

"Jika terjadi lonjakan impor, bisa dilakukan safeguard, dengan catatan tidak ada praktik dumping. Safeguard merupakan tindakan yang diambil pemerintah untuk memulihkan kerugian serius atau mencegah ancaman kerugian serius industri dalam negeri sebagai akibat dari lonjakan impor barang sejenis atau barang yang secara langsung merupakan saingan hasil industri dalam negeri, dengan tujuan agar industri dalam negeri yang mengalami kerugian," pungkasnya. (as/imq)

KataWarta.COM