AYOPRENEUR.COM

Belajar dari Tren Go-jek, Pahami Kebutuhan Konsumen

18 Jan 2017 Hits : 1,118


Pernahkah Anda melihat daftar rekomendasi produk ketika berbelanja di situs online? Saat membeli smartphone, misalnya, situs akan merekomendasikan pula sejumlah barang—seperti sarung atau lapisan pelindung layar ponsel sebelum Anda checkout.

Tidak jarang, pengelola situs web itu mencantumkan "embel-embel" bahwa pengunjung lain dengan kebutuhan serupa Anda juga melihat barang-barang yang masuk daftar rekomendasi itu. Harga dan kualitas produk yang disarankan dalam daftar tersebut biasanya juga sudah paling bersaing.

Lalu, pernah terheran-heran ada banyak tampilan barang yang "rasanya" Anda kenal dari daftar keinginan, muncul di daftar rekomendasi ketika Anda kembali membuka situs web yang sama? Tenang, situs web itu bukan pembaca pikiran.

Daftar tersebut dibuat berdasarkan pola Anda berselancar sebelumnya di toko online. Barang apa saja yang Anda lihat dan seberapa lama Anda melirik barang itu (heat map), adalah dasarnya.

Seperti dilansir Kompas.com, strategi model itu bukan asal-asalan. Pada 2015, riset konsultan website Barilliance terhadap 1,5 miliar transaksi online selama tiga bulan di 26 negara—di Amerika, Eropa, dan Australia—mendapati bahwa 68,4 persen pembelian produk berasal dari fitur rekomendasi "pengunjung yang melihat produk ini juga melihat" pada laman situs.

Contoh di atas baru satu dari banyak keuntungan mengolah "big data" atau macam ragam informasi dalam jumlah besar menjadi sebuah strategi bisnis. Bukan lagi zaman data konsumen hanya jadi laporan yang tersimpan di gudang hingga berdebu.

Pasalnya, konsumen di era modern ini makin ingin dipahami. Survei Teradata, konsultan khusus big data, menyatakan 86 persen konsumen memperhatikan soal data perilaku dan 85 persen lainnya sadar data tersebut dapat memberikan konten relevan.

Kemampuan suatu perusahaan untuk memahami kebutuhan konsumen dapat meningkatkan rasa puas. Konsumen pun akan lebih loyal dalam menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan tersebut.

Gambaran analogi sederhananya, seorang pelanggan setiap pagi memesan kopi dengan campuran 50 persen susu dan dua sendok gula di sebuah kedai kopi. Jika data ini tersimpan, ia tak perlu mengulang-ulang pesanan di kasir setiap hari, kopi sesuai selera langsung tersedia saat dia tiba.

Atau, berkaca dari tren Go-jek dan Uber, yang mengakomodasi kebutuhan kemudahan dan kecepatan pelayanan pengguna transportasi. Lewat pesanan online, data tempat yang pernah disambangi akan tersimpan dalam apikasi sehingga pengguna bisa mengakses lokasi lebih mudah, tak perlu mencari-cari ulang.

Namun, survei Teraddata mendapati pula, baru 10 persen pebisnis mengolah data secara sistematis. Lalu, hanya 18 persen pebisnis yang memiliki single customer view (SCV) atau semacam data lengkap dan holistik tentang pelanggan.

Padahal, survei ini mendapati 71 persen respondennya sadar betul bahwa dalam rentang dua tahun ke depan bisnisnya butuh solusi dari implementasi big data. Suka tak suka, pengusaha mutlak harus mulai berinvestasi pada teknologi big data jika tak mau tergilas zaman.

Inovasi kudu dikerahkan agar produk selalu relevan dengan kebutuhan pelanggan. Mulai saja dari hal sederhana, jika memang budget belum mencukupi.
Thinkstock Ilustrasi peluang terkait era internet dan digital

Langkah utama, pebisnis harus rutin mencatat data konsumen secara digital. Perlu diingat, data ini juga disimpan bersama laporan keuangan dan data internal perusahaan lain, yang dalam beberapa tahun saja tentu akan menghasilkan timbunan data. Karena itu, Anda wajib menyediakan perangkat penyimpanan data cukup besar.

Jika Anda berkecimpung di bisnis berbasis internet maka kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data menjadi lebih krusial. Bentuk informasi tak lagi hanya berbentuk angka atau pesan tertulis tetapi bisa jadi sudah bercampur dengan data gambar atau video. (as)

KataWarta.COM