AYOPRENEUR.COM

Harun Hajadi: Terus Bawa Mentalitas Founder

07 Dec 2015 Hits : 880

Jabatannya sebagai Managing Director Ciputra Group menuntut pria yang puluhan tahun bergelut di bidang properti ini untuk terus membawa mentalitas founder, DR Ir. Ciputra. Ciputra menanamkan bahwa value perusahaan, pertama integrity, kedua profesionalisme dan ketiga entrepreneurship.
 
Harun Hajadi memulai karier pada tahun 1988, setelah ia menamatkan kuliah di Amerika. Ia sempat bekerja sesuai dengan bidangnya sebagai arsistek, meski hanya bertahan selama tiga bulan. Kemudian ia bergabung dengan perusahaan FOX Group, Montgomery Realty Investors sebagai Assistant Investment Analyst. Ketika memutuskan kembali ke Indonesia, ia memiliki dua pilihan, bergabung dengan perusahaan sang nenek yang memproduksi batik atau bergabung dengan Ciputra yang saat itu masih sebagai calon mertua. Akhirnya Harun memilih untuk bergabung di perusahaan calon mertua. Kariernya dimulai sebagai Business Development Manager. Ia kerap diajak pergi kemana pun oleh Ciputra untuk urusan bisnis. Tapi waktu itu, ia hanya mendengarkan. “Begitulah awal saya diajarkan mengenai pekerjaan oleh Pak Ciputra,” ujar pria yang juga menjabat sebagai President Director PT. Ciputra Surya Tbk ini.
 
Jabatannya sebagai Managing Director Ciputra Group, menuntut pria yang telah 26 tahun bergelut di bidang property ini untuk terus membawa mentalitas founder (Ciputra). Ciputra menanamkan bahwa value perusahaan, pertama integrity, kedua profesionalisme dan ketiga entrepreneurship. “Saya harus menerapkan itu dalam keseharian saya sehingga semua karyawan mempunyai nilai tersebut,” ujarnya.
 
Menurut Harun, menjadi pimpinan tidak harus lebih pintar daripada bawahan, tapi harus bisa dilihat sebagai leader. “Saya belum tentu punya keahlian yang lebih dibandingkan direktur-direktur saya. Tapi karena direktur yang bergelut setiap harinya, jadi mereka lebih tahu. Namun saya tidak boleh merasa terancam karena mereka lebih ahli dari saya, karena setiap posisi itu memiliki fungsi yang berbeda,” ungkapnya.
 
Lebih lanjut Harun mengatakan bahwa seorang leader yang baik adalah bagaimana agar para karyawan bisa mengelurkan atau mendorong keahlian, kehebatannya untuk perusahaan.
 
Ada hal unik di kantor pusat perusahaan Ciputra ini. Bila di perusahaan-perusahaan lain, seorang managing director dan juga para director memiliki ruangan kerja sendiri, tapi di sini Harun dan para director-nya berada dalam satu ruangan. “Di ruangan yang cukup luas ini, kami menempatinya ber 9. Kami tidak memiliki ruangan pribadi, jadi kami kalau mau rapat tidak perlu susah-susah ke ruang rapat. Bisa tetap duduk di bangku masing-masing,” urainya diiringi tawa.
 
Ciputra sangat dikenal sebagai sosok yang memberikan inspirasi bagi para pengusaha dan ia pun tak pelit untuk berbagi ilmu. Ciputra menyerukan entrepreneurship, karena menurutnya, inilah salah satu cara mengeluarkan bangsa ini dari kemiskinan. “Pak Ciputra berpesan agar Corporate social responsibility (CSR) yang kita buat harus selalu berhubungan dengan entrepreneurship. Karenanya, kita membuat program pelatihan untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan mantan penghuni Dolly,” terangnya.
 
Harun menganggap, program pelatihan untuk TKI yang dilakukan Ciputra Group di Hong Kong paling sukses. Karena,  Hong Kong memiliki kebijakan memberikan libur kepada para Tenaga Kerja di hari Minggu. Sehingga, ketika memberikan pelatihan banyak para TKI yang bisa ikut, minimal 500 orang akan datang setiap kali pelatihan. Dan ketika pulang ke Indonesia, mereka menggunakan uang hasil kerjanya untuk modal.
 
Dorongan untuk memberikan pelatihan pada TKI, dikarenakan kebanyakan dari mereka setelah pulang ke Indonesia,  beberapa tahun kemudian akan kembali lagi menjadi TKI karena uangnya telah habis. Dengan pelatihan ini diharapkan membuat TKI mampu mengelola pendapatannya. Sehingga, mereka tidak perlu kembali lagi menjadi TKI. Sayangnya, di Malaysia dan Singapura, program ini kurang sukses karena hari liburnya tidak sama, sehingga sulit mengumpulkan TKI.
 
Selain mengajar TKI, Ciputra Group juga melatih para pekerja yang dulu bekerja di Dolly. “Saya belum tahu ini sukses apa tidak. Waktu pertama kita promosi, yang ikut tidak banyak, hanya 9 orang. Saya berharap dari 9 orang ini ada yang berhasil, sehingga bisa menjadi contoh buat yang lainnya. Kita sangat aktif, tapi yang menentang banyak. Karena banyak bisnis yang tercipta akibat adanya aktivitas tersebut, dengan ditutupnya Dolly tentu saja aktivitas usaha mereka terganggu,” terang Harun.
 
Sejak usia 15 tahun Harun sudah ditinggal mati ibunya. Tapi Harun merasa hidupnya diberkahi, karena ia tidak merasa hidup susah dan orang-orang di sekelilingnya menyayangi dirinya. Harun dilahirkan di Jakarta, tepatnya di daerah Petamburan. Ketika berusia 6 tahun keluarganya pindah ke Palembang. Ayahnya adalah pengusaha di bidang bahan bangunan. Ketika memasuki bangku SMA, ia kembali pindah ke Jakarta ikut bersama sang nenek. Dalam pandangan Harun, neneknya adalah pribadi yang keras, disiplin tinggi dan dari neneknyalah ia diajarkan efisien. Ia tidak boleh menggunakan uang untuk hal-hal yang dianggap tidak terlalu perlu. Bagi neneknya, prestige tidaklah penting dan sampai sekarang hal-hal seperti itu diterapkan Harun dalam menjalani kehidupan ini.
 
Harun terlahir sebagai anak pertama dan memiliki dua orang adik perempuan. Ia merasa bersyukur dan berterima kasih kepada orang tuanya, sehingga ia dapat mengecap ilmu hingga Amerika. Menurutnya, ayahnya bukanlah pengusaha kaya, tapi walau hanya hidup sederhana. Ayahnya mengutamakan pendidikan anak-anaknya. Seorang adiknya sekolah di Jerman mengambil kedokteran, kini telah menikah dengan orang Jerman. Sementara adiknya yang satu lagi kuliah di Amerika mengambil Business dan menikah dengan orang Indonesia yang bermukim di sana. Pendidikan adalah hal yang diutamakan ayahnya untuk anak-anaknya. Karena, dengan pendidikan tersebut bisa menjadi bekal masa depan anak-anaknya. Terbukti, dengan bekal pendidikan tersebut, ia dan adik-adiknya bisa survive di bidangnya masing-masing. Hal itu juga yang ia ingin terapkan kepada anak-anaknya. Bahkan dalam membantu orang lain pun Harun bersama sang istri Junita Ciputra lebih memilih membantu pendidikan. Menurutnya, dengan membantu pendidikan, efeknya jangka panjang.
 
Harun mengenal Junita Ciputra sebagai temanya sewaktu SMA. Namun diakuinya, saat itu mereka hanya berteman saja. Setamat SMA mereka bertemu di Amerika karena sama-sama kuliah di sana. Ketika masa kuliah itulah, hubungan mereka terjalin dekat dan memutuskan untuk berpacaran. Harun dan Junita menikah di tahun 1990 dan dikaruniai tiga orang putra. Ketiga anak Harun dilahirkan pada tanggal yang sama, yaitu tanggal 28. Karenanya angka tersebut memiliki kesan tersendiri bagi Harun. Harun sendiri menyukai bermain piano. Ia sudah mulai bermain piano sejak kelas 2 SD. Sementara anak dan istrinya tidak ada yang menyukai bermain piano, tapi menjadi pendengar yang baik bila Harun memainkan alat musik ini. Selain itu, untuk menjaga kesehatanya setiap harinya Harun menyempatkan diri 30 menit untuk treadmill. (as)

BACA JUGA

KataWarta.COM