AYOPRENEUR.COM

Barry Simorangkir Pebisnis Properti Sukses di Amerika Serikat

29 Dec 2015 Hits : 1,536

Tidak sedikit orang yang memiliki keinginan untuk membangun dan menjalankan bisnis. Apalagi usaha tersebut dapat berjalan dengan sukses baik itu di negeri sendiri maupun di negeri orang.

Untuk membangun bisnis di negeri sendiri pun belum tentu dapat diraih dengan mudah dan lancar, apalagi di negeri orang. Membangun bisnis diluar negeri bisa jadi merupakan salah satu pilihan yang dapat diambil. Mengapa? Bagi sebagian orang membangun bisnis di luar negeri merupakan suatu tantangan sekaligus peluang yang sangat menarik untuk dijalankan.

Seperti Barry Simorangkir, WNI yang kini berkiprah di bisnis properti di Amerika Serikat. Sebenarnya ia juga seorang profesional The Center for Research in Security Prices (CRSP), sebuah pusat penelitian terkemuka yang berbasis penyedia data historis pasar saham di University of Chicago, USA.

Sejak tahun 2000, Barry masuk ke CRSP. Pada awalnya ia ditempatkan di bagian riset. Setiap bulan, ia bersama anggota tim yang lain memperbaharui seluruh produk database. Setelah beberapa kali mendapatkan promosi, akhirnya ia dipindahkan ke bagian yang berhubungan langsung dengan klien.

“Saya percaya kalau posisi yang berhubungan langsung dengan pengguna produk akan dapat memberikan pandangan yang lebih luas tentang produk yang dimanfaatkan oleh peneliti pasar saham terhadap produk database,” ujar pria yang sejak saat itu diangkat sebagai Manager Data and Research Support.

Pria Batak yang pernah mengenyam studi S2 Bidang Finance dan Computer Science di University of Chicago, Illinois , AS ini mengaku bahwa tanggung jawabnya sangat beragam. Ia harus fasih mempresentasikan detail produk CRSP dalam penggunaan perangkat lunak. Juga, wajib memberikan masukan kepada tim programmer komputer dalam pengembangan perangkat lunak yang dimiliki CRSP. Selain itu, ia juga harus membantu pengguna untuk mengerti seluk beluk data dan definisi data yang dapat disajikan dalam riset. Tanggung jawab lain, menerima masukan dan verifikasi data dari pengguna, membuat program untuk proyek pengembangan dan penelitian lebih lanjut tentang produk baru, serta memberikan masukan terhadap tim pengembangan yang lebih luas tentang bagaimana produk CRSP agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Lantas apa yang menyebabkan Barry terjun ke bisnis properti?

Ternyata ada hubungannya dengan kegemarannya pada pelajaran matematika, finansial, dan komputer. Selain berkiprah sebagai profesional, Barry mampu menyeimbangkan aktivitasnya dengan berbisnis properti. “Pada saat krisis finansial 2008, baru pertama kali dalam hidup, saya melihat sistem kredit di Amerika terpuruk,” ujar pria yang mengistilahkannya sebagai ombak dahsyat yang menerjang seluruh segi kehidupan manusia.

Salah satu yang ia amati adalah moneter biaya perumahan. Barry melalui temannya di AS, menerima daftar rumah yang dijual seharga 90 persen, atau diskon 10 persen. Harga yang tidak masuk akal tetapi nyata. Ia mengandaikan bahwa membeli rumah seperti membeli kucing dalam karung. Sebagai contoh, rumah yang dibeli dengan harga US$ 9.000, lalu sang pembeli menjualnya dengan keuntungan US$ 13.000. Lalu, dibeli oleh orang lain dengan harga US$ 17.000 dan seterusnya.

Menurut Barry, semua penjual dan pembeli rumah tersebut tidak pernah menginjakan kakinya ke dalam rumah yang diperjualbelikan. Mereka hanya memindahkan surat rumah dari tangan investor yang satu ke lainnnya. Melihat kesempatan yang sangat menggiurkan ini Barry langsung terjun bebas ke dalamnya.

Bagaimana liku-liku Barry dalam membesarkan bisnis ini? “Terus terang usaha kecil-kecilan,” ceritanya. Bagaikan membesarkan seorang anak, kegiatan bisnis properti ini memerlukan waktu dan naluri yang jitu. Satu hal yang ia pelajari selama mengarungi lautan “rumah murah meriah” adalah mendapatkan properti yang memiliki lokasi terbaik.

Barry mempunyai beberapa orang kepercayaan yang akan menemaninya melihat properti di tempat-tempat “seram”. Mengapa demikian? Karena daerah yang dimaksud adalah daerah di mana angka kejahatan dan pengrusakan terhadap properti sangat tinggi. Namun itu bukan masalah karena tujuannya adalah supaya dapat mengambil alih properti yang ia harapkan akan terjual dalam waktu yang singkat. Pun, ia juga mencari properti yang memiliki nilai jual sangat tinggi saat ekonomi membaik di masa yang akan datang. Contohnya adalah gedung-gedung yang memiliki tempat hunian 2-6 unit.

Apa kendala bisnis ini? “Waktu, “tukas Barry singkat. Ia harus sering keluar malam meninggalkan anak istri untuk menuju lokasi tempat-tempat di mana rumah maupun gedung-gedung murah baru akan dilelang. Biasanya ia ingin melihat keadaan properti tersebut sebelum memberikan tawaran esok harinya.“Saya ingat saat rumah yang saya masuki ternyata terletak di bagian kota Chicago yang ada gangster. Dengan ditemani oleh kawan, saya berdua masuk ke dalam gedung yang gelap gulita, dengan hanya dibekali senter dan tongkat besi sebagai senjata. Di tengah musim dingin dengan suhu menyentuh -15 celsius di bawah nol, saya berada di luar rumah selama lebih dari 2 jam,” ia mengisahkan.

Adapun tantangan lain yang ia hadapi biasanya seputar kejahatan saat melakukan pemeriksaan, kemungkinan salah investasi, serta modal yang terbatas. Meskipun begitu, investasi yang ia tanamkan seperti pembelian gedung, renovasi, dan sebagianya dapat kembali dalam waktu 1-2 tahun, tergantung kondisi pasar saat itu. Jika ingin disewakan maka akan kembali modal selama 4-5 tahun.

Barry berencana akan menambah portfolio properti yang ia miliki tahun depan. Artinya, ia akan menjual properti yang dimiliki jika ada yang berminat, lalu membeli properti lain yang memiliki kualitas dan lokasi yang lebih baik. Target utamanya adalah memiliki properti yang letaknya semakin strategis. Seperti bermain monopoli, ia selalu bersiap-siap dengan cash untuk membeli distress property yang tersedia kapan saja. Ia menjamin bahwa harga akan sangat murah jika pembeli siap dengan cash.

Lantas apakah ia punya rencana untuk pulang ke Tanah Air dan membangun bisnis di Indonesia? “Saya tidak menutup kemungkinan untuk itu. Namun pada saat ini, keinginan saya adalah bagaimana agar orang-orang Indonesia bisa mengambil kesempatan untuk membeli properti di Amerika, “ ujarnya yang menerangkan bahwa sekarang harga sedikit demi sedikit sudah naik.

Dia mencontohkan properti yang tadinya memiliki nilai US$ 20.00 tahun 2009, sekarang sudah naik menajdi US$ 35.000 tanpa harus direnovasi. Banyak investor, termasuk ia sendiri yang hanya menutup seluruh kaca dan pintu dengan kayu untuk menghindari pencurian dan perusakan pada saat belum ada rencana untuk meronovasi. Secara jangka panjang Barry melihat bahwa properti merupakan suatu investasi yang tepat bagi investor pemula maupun yang berpengalaman.(swa/vaa)

BACA JUGA

KataWarta.COM