AYOPRENEUR.COM

Ir Ciputra :Sisihkan Subsidi BBM untuk Investasi Entrepreneurship!

17 Nov 2014 Hits : 1,833

Rencana pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pemerintah –untuk menghindari istilah kenaikan harga minyak--- itu sebuah keniscayaan. Cepat atau lambat, bakal terjadi. Naik berapa persen, berapa tinggi, kapan diumumkan, itu hanya soal waktu. Karena itu, Dr (HC) Ir Ciputra mengingatkan pada kalangan entrepreneur agar pintar-pintar mengatur strategi, agar survive, sustain dan tetap berkembang.

Tak perlu ribut, tak perlu bising, tak perlu shock dan bingung. Seorang entrepreneur sejati harus tahan di segala cuaca, kuat di segala medan, baik tekanan internal atau eksternal. Energi utama penggerak mesin kewirausahaan itu sesungguhnya bernama: inovasi, kreativitas dan wawasan. Bukan BBM, alias Bahan Bakar Minyak. “Karena itu, saya tidak ingin berpolemik soal harga BBM. Saya concern pada spirit mencetak dan menularkan virus kewirausahaan,” jawab Ir Ciputra dengan suara baritonnya yang tegas.

Jangankan BBM, dana atau modal yang selalu dijadikan lubang kendala bagi banyak lulusan sarjana yang menganggur, bukan persoalan utama bagi entrepreneur. Kalau tiga modal dasar di atas –inovasi, kreasi, wawasan-- sudah dimiliki, maka pemodal-pemodal atau investor akan datang. “Karena itu membuat orang pintar berbisnis, mencetak wirausahawan, menularkan ilmu entrepreneur, melatih kemandirian itu sudah menyelesaikan banyak problem sosial di negeri ini,” ungkap Bapak Entreprenur yang ke mana saja selalu berbagi ilmu usaha itu.

Yang dia harapkan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla adalah perhatian pada pendidikan yang berbasis pada entrepreneurship. Selain untuk kepentingan membangun infrastruktur, jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, dan aneka fasilitas publik lain, juga ada yang diinvestasikan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Caranya, menyisihkan sebagian dari penghematan BBM itu untuk mendidik calon-calon entrepreneur.

Tujuannya, menambah kuantitas dan kualitas wirausahawan nasional. Menambah indeks pengusaha hingga mendekati 2 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Targetnya, fondamen ekonomi di negeri ini lebih kokoh, jebolah pendidikan entrepeneur tidak berharap menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi justru menciptakan lapangan pekerjaan buat orang lain, mengurangi pengangguran, dan membuat ekonomi nasional pun semakin kokoh.

“Kita jangan hanya menjadi pasar empuk bagi negara-negara lain. Kita harus bangkit menjadi eksportir yang sebenarnya, bukan pengekspor TKI/TKW yang sering diremehkan di negeri orang. Kita jadi pengirim tenaga ahli, tenaga terdidik, konsultan, yang menghasilkan devisa lebih banyak. Juga tidak dilecehkan orang lain. Kita harus naikkan skill, tingkatkan kualitas SDM, yang memiliki daya saing kuat,” ungkap Insinyur lulusan ITB Bandung yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931 itu.

Ciputra setuju dengan konsep, mengekspor barang jadi, bukan bahan mentah yang velue-nya masih rendah. Diproses dulu, dinaikkan kualitasnya, diperkuat  value ya, sehingga menghasilkan transaksi yang lebih besar nilainya. “Entrepreneurship adalah mengubah yang biasa menjadi bernilai tinggi,” katanya.

Memang, pengalihan subsidi BBM itu akan banyak masuk ke infrastruktur, agar aksesibilitas pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain menjadi lancar dan murah. Itu sudah benar, karena dengan membangun sarana dan prasarana, itu juga otomatis menaikkan lalulintas perekonomian. Juga menciptakan pekerjaan rakyat untuk pembangunan infrastrukturnya. Itu adalah kepentingan jangan pendek dan menengah.

Tetapi jangan lantas melupakan kepentingan jangka panjang 5-10-20 tahun yang akan datang. Yakni membangun mindset, menempa mental, mendidik dan mendorong menjadi usahawan kreatif yang mampu memperkokoh ekonomi negeri ini. Tidak sama dengan membangun infrastruktur, yang 6 bulan 1 tahun jadi, bisa dilewati dan langsung berdampak pada aktivitas barang dan jasa. Membangun mind set itu lama, harus tekun dan konsisten.

Bahkan, idealnya dilakukan sejak TK, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi, tanpa berhenti. Ada tiga saluran yang efektir untuk menularkan ilmu entrepreneur itu. Pertama, melalui orang tua. Kedua melalui lingkungan. Ketiga, melalui laatihan atau pendidikan. Di Indonesia, tidak banyak orang tua yang pengusaha, persentasenya sangat kecil. Karena itu, pola asuhan dari orang tua ini tidak bisa massif, tidak bisa berharap banyak, kapasitasnya kecil.

Lingkungan pun, tidak banyak yang bisa diandalkan, untuk menjadi incubator bagi lahirnya entrepreneur baru. Ini juga bukan saluran yang bisa diandalkan, bagi negeri yang kaya akan potensi alam ini. “Yang paling memungkinkan untuk mengejar ketinggalan, paling massif, paling banyak, cepat dan efektif adalah melalui pola latihan! Dengan cara pendidikan,” ungkap kakek yang pernah dinobatkan sebagai Entrepreneur of The Year 2007 versi Ernst & Young itu.

Ciputra tidak ingin terlibat dalam pro dan kontra pengalihan subsidi BBM itu, karena itu domain negara. Biarlah pemerintah membuat keputusan yang terbaik saat ini untuk bangsanya. Ciputra tetap concern pada perjuangan untuk menjadi pabrik bagi percetakan entrepreneur yang mampu menjaga ketahanan ekonomi bangsa ini ke depan.

Cara-cara pemberian bantuan langsung tunai seperti yang sudah-sudah, memang menghasilkan polemik juga. Apakah cara itu efektif? Mungkin juga disadari bahwa itu tidak mendidik dan hanya menyelesaikan “kemarahan” sesaat akibat harga-harga turut naik. “Prinsipnya, orang sehat harus bekerja. Orang sehat jangan diberi uang cuma-cuma. Ciptakan pekerjaan yang luas, yang banyak, di mana-mana. Nah, itulah pekerjaan entrepreneur!” ungkapnya.(dk)

BACA JUGA

KataWarta.COM