AYOPRENEUR.COM

Kisah Sukses Adi Wijaya Berbisnis Furnitur Rumah Sakit

25 Nov 2016 Hits : 1,204

Pasar produk peralatan dan perlengkapan kesehatan terus meningkat. Bertumbuhnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mendorong mereka untuk lebih peka terhadap berbagai penyakit yang mungkin timbul pada tubuhnya.

Sebagai antisipasi, sebagian orang rutin memeriksakan diri ke berbagai pusat kesehatan. Tingginya kesadaran ini juga mendukung makin bertambahnya rumahsakit, klinik, dan pusat-pusat kesehatan lain.

Apalagi, seiring dengan pemberlakuan Jaminan Kesehatan Nasional, makin banyak masyarakat yang tertarik untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan. Alhasil, kebutuhan fasilitas kesehatan pun meningkat.

Tak hanya membuka peluang untuk mendirikan rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan lainnya. Peluang usaha lainnya adalah memproduksi berbagai perlengkapan furnitur untuk berbagai pusat kesehatan ini. Ambil contoh, ranjang (hospital bed), meja periksa (examination table), children bed, hingga boks bayi.

Berbagai peralatan dan perlengkapan ini tak hanya mengisi rumah sakit baru. Kebutuhan juga datang dari rumahsakit atau fasilitas kesehatan yang ingin mengganti berbagai perlengkapannya dengan yang baru, baik karena kerusakan atau karena ada teknologi baru.

Peluang bisnis pada bidang ini kian besar karena jumlah rumahsakit dan klinik juga membesar. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah sakit umum dan rumah sakit khusus pada 2013 mencapai 2.228 unit. Sementara, jumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas) 9.655 unit. Belum lagi, klinik-klinik swasta. Setiap tahun, fasilitas kesehatan ini bertambah 5 persen-10 persen. Menggiurkan, bukan?

Terus bertambahnya jumlah fasilitas kesehatan inilah yang mendorong M. Adi Wijaya untuk terjun sebagai produsen furnitur rumah sakit, enam tahun silam. Sebelum memutuskan untuk membuka pabrik sendiri, sudah puluhan tahun Adi bergelut dalam industri kesehatan.

Namun, Adi tak memasok langsung produknya untuk rumah sakit. Dia mengirim barangnya untuk para pedagang, agen, dan distributor berbagai perlengkapan ini.

Selain itu, dia melayani pembelian dari klinik dan rumah sakit skala kecil. Dia melabeli produknya dengan nama CUA.

Ada sekitar 30 produk yang dibikin oleh Adi. Seperti bed hospital dengan berbagai tipe dan ukuran, meja periksa dengan berbagai tipe, mobile stretcher (alat untuk memindahkan pasien), brancard ambulans, beragam jenis troli, baby box, kabinet, loker, dan lemari obat.

Dari tahun ke tahun, permintaan pun terus meningkat. Adi juga terus menambah karyawan hingga 25 orang. Bahkan, pada tahun keempat, dia mampu mencetak omzet hingga Rp 400 juta setiap bulan. “Tak hanya dari Jakarta, saya juga mengirim pesanan dari rumahsakit di luar Jawa,” ujar Adi seperti dilansir Kompas.com.

Tapi, dia tak bisa menghindar dari persaingan yang kian ketat. Bukan cuma bersaing dengan produk lokal, Adi juga harus mampu menghadapi produk-produk China yang menggerus pasarnya.

“Saya harus bisa memikirkan manajemen dan proses produksi yang efisien, supaya bisa menawarkan produk dengan harga yang pas,” jelas dia. Dalam kondisi sekarang, profit

Namun, untuk merintis bisnis ini, tak hanya butuh modal uang. Adi menjelaskan, calon pemain juga harus menguasai dari soal pemasaran dan proses produksi. Berikut pemahaman akan produk.

Sebab, produsen juga harus mampu menghadirkan produk dengan harga yang masuk akal. Anda juga harus memperhatikan persaingan dengan produk sejenis asal China.

Maklum, banyak pula perusahaan yang menjadi agen atau distributor produk-produk ini dari negeri tirai bambu itu. Tapi, jangan sampai kondisi ini justru mengerdilkan nyali Anda!

Jika dulu Adi merintis usahanya cukup dengan modal Rp 25 juta, dia menaksir untuk mendirikan pabrik ini butuh modal setidaknya Rp 200 juta. Namun, modal sebesar ini belum termasuk pengadaan tempat produksi. “Modal itu dipakai untuk membeli mesin-mesin, seperti mesin potong, mesin las, vakum dan lainnya,” kata Adi.

Nilai modal akan bertambah besar jika Anda menawarkan produk lewat e-katalog. Sebab, Anda harus siap dengan datangnya pesanan yang berjumlah besar.

Selain itu, stok produk jadi dan bahan baku juga harus selalu ada supaya pelanggan tak berpaling ke produsen lainnya. Adi pun menaksir, modal untuk membangun pabrik besar bisa mencapai Rp 10 miliar.

Bahan baku utama untuk produksi berbagai perlengkapan dan peralatan rumahsakit ini adalah besi hollow. Anda bisa mendapatkannya dari supplier atau pabrik langsung.

Yang perlu diperhatikan, untuk mendapat kualitas terbaik adalah ketebalan besi tersebut. “Produsen juga bermain pada ketebalan ini untuk mengakali harga jual supaya bisa miring,” cetus Adi.

Jika melihat sejumlah produk, proses pembuatannya sederhana, yakni memotong dan mengelas, lalu memberi lapisan cat atau krom.

Namun, ada juga produk dengan sentuhan teknologi, seperti tempat tidur yang menggunakan hidrolik untuk menaikkan atau menurunkan ketinggiannya. Sebaiknya, Anda juga mengikuti perkembangan furnitur yang dibutuhkan rumahsakit.

Meski terlihat sederhana, tenaga kerja yang andal juga memegang peranan penting. Adi bilang, itu terkait dengan kecepatan dalam proses produksi. Maklum, tenggat waktu untuk sebuah order juga berlangsung cepat. Jika ingin tenaga yang andal ini, Anda bisa merekrut karyawan lulusan Sekolah Teknik Mesin.

Untuk desain, biasanya tak banyak modifikasi. Produk-produk ini lebih bersifat fungsional dan ergonomis. Tapi, tentu saja, faktor kenyamanan juga harus diperhatikan.

Selain itu, ada standar-standar baku yang telah ditetapkan dan harus diikuti. Untuk menyakinkan pembeli, Anda bisa menambahkan sertifikasi produk seperti ISO.

Soal pemasaran, tak hanya dengan e-katalog. Sebab, e-katalog hanya diperuntukkan jika Anda ingin menggarap proyek-proyek dari pemerintah. Di luar itu, tentu saja, Anda bisa mengincar rumahsakit swasta yang jumlahnya tak kalah banyak.

Untuk pemula, Robert pun menyarankan untuk menyasar konsumen dari klinik, rumahsakit kecil, atau rumahsakit daerah. “Harus belajar dulu, setahun, dua tahun,” kata dia.

Untuk pengusaha yang kapasitas produksinya masih rendah, ada baiknya menjalin relasi dengan klinik atau pemilik rumahsakit kecil ini. Setelah itu, baru merambah kelas dan pasar yang lebih luas lagi.

Di luar itu, Anda juga bisa mengikuti pameran. Saat ini, ada hospital expo yang rutin diselenggarakan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.(as)

KataWarta.COM