AYOPRENEUR.COM

Rudy Setiawan, Dari Tukang Bangunan Kini Sukses Bisnis Makanan

20 Dec 2016 Hits : 1,229

Berakit-rakit kehulu, bersenang-senang kemudian, tentu kata-kata itu sudah tak asing lagi terdengar ditelinga kita. Memang benar untuk mencapai impian seseorang harus selalu pantang menyerah untuk melalui segala ujian demi tercapainya impian itu.

Seperti yang dilakoni oleh Rudy Setiawan (58), ia pernah menjadi tukang bangunan, pesuruh kantor, karyawan kantor, bahkan berjualan nasi pecel dan steak. Kini, ia memiliki restoran Dandito di Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan menu andalan kepiting yang populer.

Wisatawan yang berkunjung ke Balikpapan biasanya membawa kepiting sebagai buah tangan. Sebagian wisatawan mungkin membeli di Dandito dengan alasan rasa masakan kepiting yang sesuai selera.

”Susah mencari resep yang pas. Saya perlu waktu tiga bulan dan selama itu penuh komplain dari pembeli karena rasanya tidak karuan. Ada yang mengeluh kepedasan, keasinan, atau terlalu manis. Namanya saja coba-coba, ya, dicoba terus sampai berhasil,” ujar Rudy di Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Jauh sebelum membuka restoran yang sudah berjalan 15 tahun ini, Rudy mencoba berbagai usaha kuliner. Ia membuka warung nasi campur, pecel, soto, steak, hingga kafe yang menyediakan menu masakan barat. Namun, warungnya selalu tidak laku dan gulung tikar.

”Ibaratnya, tahun pertama membuka warung sudah menuju kondisi bangkrut. Tahun kedua, jatuh menyusup. Lebih dari 10 kali usaha kuliner saya gagal. Saya mulai melihat ke kanan dan ke kiri. Ada dua restoran kepiting di Balikpapan yang ramai pembeli,” kata Rudy.

Terlintas ide membuka restoran kepiting karena kepiting banyak tersedia di Balikpapan. Rudy yang tidak pernah memasak kepiting sempat ragu, tetapi akhirnya nekat. Dengan modal yang nyaris habis, pilihan usaha kuliner yang bisa dijalankan hanya tinggal kepiting.

”Saya mencari resep masakan kepiting melalui internet, mulai dari meracik hingga belajar membuat saus. Ada teman yang bisa masak, saya ajak gabung, lalu saya beri baju koki. Tiga bulan pertama sangat kacau. Namun, setiap kritikan dan masukan pembeli saya catat,” ujarnya.

Lambat laun, racikan kepiting saus buatan Rudy diterima pasar. Dandito pun mulai berkembang. Kini, dalam sehari, Dandito memerlukan setidaknya 300 kilogram kepiting. Selain di Balikpapan, Dandito mempunyai gerai di Bali.

Sebenarnya, Rudy sempat memiliki empat gerai di Balikpapan. Namun, karena susah mengendalikan semua gerai itu, akhirnya dijadikan satu gerai saja.

Pada Agustus, menu kepiting Dandito menjadi salah satu sajian kuliner di Istana Negara dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan RI. ”Itu kebanggaan bagi saya, juga semakin melecut semangat untuk menjadi lebih baik,” ujar Rudy.
Perjalanan panjang

Rudy sudah menempuh perjalanan panjang sebelum memantapkan diri berwirausaha di bidang kepiting. Pada 1979, ketika berusia 19 tahun, ia nekat merantau meninggalkan Jember, Jawa Timur, menuju Samarinda, Kalimantan Timur. ”Modalnya dengkul dan nyali,” katanya.

Dia bertekad bekerja apa saja untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Orangtuanya hanya berjualan kue, yang jelas tidak cukup untuk membiayai sekolah mereka. Rudy anak kedua dari tujuh bersaudara.

Rudy yang tidak memiliki kerabat di Samarinda tidak punya rencana. Dia sempat menggelandang di pelabuhan Samarinda sebelum ditolong seorang tentara yang mengajaknya ke Kota Balikpapan. Rudy lantas bekerja di gedung bioskop, tetapi hanya tiga hari.

Rudy bertemu seorang kawan yang mengajaknya ke Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk bekerja sebagai tukang bangunan. Tawaran itu diterima. Rudy pun bersimbah peluh mendirikan bangunan di kompleks sebuah perusahaan migas di kawasan itu.

Tak disangka, pekerjaannya itu mengantarkan Rudy menjadi karyawan perusahaan tersebut. Ia bertugas sebagai pesuruh kantor. Karena kerap bersinggungan dengan pekerja-pekerja asing, Rudy mencoba berbahasa Inggris.

Lalu, suatu ketika, perusahaan itu membuka pendaftaran karyawan. Rudy mendaftar dan lolos. Pada 1982, ia diangkat sebagai karyawan tetap. Kariernya naik hingga menduduki posisi sekretaris manajer.

Namun, tahun 2000, seiring kebijakan efisiensi karyawan, Rudy ”terpangkas”. Ia mulai berpikir berwirausaha. Kini, restoran Dandito menunjukkan keberhasilan Rudy sebagai wirausaha. Sejumlah penghargaan yang dipajang di restorannya menjadi bukti.

”Saya lebih suka dikomplain daripada dipuji,” katanya, berbagi resepnya untuk terus maju.

Di balik kesuksesan Dandito, Rudy menyebut prinsipnya adalah 267. Dalam tangga nada, 267 dibaca ”re-la-si”. Ada banyak teman dan relasi yang mewarnai perjalanannya yang jatuh dan bangun. Sampai sekarang, prinsip 267 itu tetap dipegang erat karena tetap relevan.

Suami dari Yuli Setiwati dan ayah dua anak, Gifta dan Dandi, yang menginspirasi nama Dandito, ini yakin, segala hal akan berjalan baik jika hubungan baik dengan orang lain juga terjalin baik. Atas dasar itu pula, Rudy lebih suka dikomplain daripada dipuji. Sebab, pujian bisa membuat terlena.(vaa/bisnisukm)

KataWarta.COM