AYOPRENEUR.COM

Haji Tohirin, Juragan Getuk Goreng dari Sokaraja

05 Jan 2017 Hits : 1,118

Getuk goreng, getuk goreng, getuk goreng

Weton Sokaraja sing enak rasane

Gurih aromane tur murah regane

Rupa ra sepiroha

Neng rasane kok mirasa

Pra konco, pra mitro

Yo ayoo pada pada nyoba

Mundhut getuk goreng Sokaraja

Kang kondhang kawenang-wenang

Nukilan Langgam 'Getuk Goreng' milik penyanyi legendaris Waljinah menjadi saksi akan kondangnya getuk goreng Sokaraja, Banyumas. Langgam tersebut sengaja dibuat untuk mengabadikan karya Bapak Sanpirngad, penemu getuk goreng Sokaraja pada tahun 1918. ''Sebelum tahun itu, belum ada yang memproduksi getuk goreng,'' kata Haji Tohirin, generasi kedua penerus produksi getuk goreng merek 'Asli' itu.

Berkat suara empuk si Walang Kekek itu pula, getuk goreng Sokaraja meroket ke seluruh Nusantara. Sebab, secara tidak langsung, melalui tembang yang direkam dan diedarkan oleh Lokananta Recording Solo, getuk goreng Sokaraja dipromosikan.

H Tohirin mengisahkan, sekitar tahun 1974 datang Waljinah menemui dirinya di Sokaraja. Si Walang Kekek tersebut datang sebagai utusan Kartowinarjo untuk meminta izin membuat lagu dengan tema getuk goreng Sokaraja.

Permintaan itu diizinkan dan Waljinah kembali ke Solo sambil membawa wujud getuk goreng sebagai contoh. ''Kira-kira sebulan kemudian langgam tersebut sudah jadi, dan saya dikirim satu kaset,'' kenang Tohirin.

Semenjak kaset tersebut dipasarkan, nama getuk goreng Sokaraja makin laris. Kaset asli diedarkan dalam album Entit direkam dan diedarkan Lokananta Recording Solo. Oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas waktu itu, pada tahun 1976, H Tohirin ditunjuk untuk ikut pameran pembangunan. Momentum itu dimanfaatkannya untuk mempromosikan getuk goreng. ''Di beberapa kali pameran saya selalu memutar tembang getuk goreng yang dilantunkan Bu Waljinah,'' katanya.

Asal-muasal getuk goreng, jelas dia, tanpa sengaja ditemukan. Ayah mertuanya, Sanpirngad, sebelum tahun 1918 hanyalah penjual nasi rames dan makanan basah lainnya, antara lain getuk basah, di sebelah timur kantor polisi Sokaraja. Sering, getuk yang terbuat dari singkong tersebut tidak habis terjual karena pembeli sepi. Oleh Sanpirngad, getuk itu iseng-iseng digoreng. ''Gorengan getuk itu dirasa-rasa kok enak saat dimakan. Mulai saat itu Bapak merintis getuk goreng hingga meninggal pada awal 1967,'' kata Tohirin seperti dilansir Suaramerdeka.com.

Selanjutnya, H Tohirin melanjutkan usaha orang tuanya itu mulai akhir tahun 1967 hingga besar seperti sekarang. Tahun 1989, dia mulai mengundurkan diri karena usia sudah tua dan menyerahkan usahanya kepada tiga anaknya, yaitu Waryati, Slamet Lukito, dan Warsuti. ''Waktu saya mundur, baru ada tiga toko,'' jelasnya.

Sekarang, usaha getuk goreng itu sudah dikelola oleh generasi ketiga. Jumlah toko/counter dengan nama 'Asli' sekarang 10 buah. ''Sembilan di Sokaraja dan satu di Buntu,'' kata pria lulusan SD ini. Toko yang paling banyak dikelola yaitu milik Sutrisno (suami Warsuti-Red). Sukses mengelola usaha getuk goreng membuat warga sekitar ikut-ikutan membuka usaha yang sama. Paling tidak sudah 40 pengusaha getuk goreng di Sokaraja.

Tohirin merasa tidak tersaingi, meski sekarang banyak bermunculan pesaing. ''Calon pembeli sudah tahu, maka ketika mereka berhenti di Jl Raya Sokaraja langsung menuju toko kami,'' jelas penggemar sepakbola ini. Dia enggan mengutarakan resep atau bumbu getuk gorengnya. Namun dia memberikan resep agar getuk goreng tetap awet meski sampai setengah bulan. Menurutnya, kalau membeli getuk goreng yang hangat jangan langsung dimasukkan ke toples, tetapi diangin-anginkan lebih dulu biar dingin. Soal bungkus pun sengaja dipilih besek dari anyaman bambu daripada kertas. Sebab, kalau tertutup kertas tidak ada sirkulasi udara, getuk goreng pun bisa blenyek.

KataWarta.COM