AYOPRENEUR.COM

Bermodal Pinjaman Kini Denni Capai Kesuksesan

30 Dec 2016 Hits : 995

Bagi sebagian besar warga Batam, tentu Cake Pisang Villa yang kini menjadi oleh-oleh wajib khas Batam tidak akan asing lagi di telinga mereka. Denni Delyandri, di usianya yang masih muda sukses menjadi pengusaha penganan tersebut. Kini dia juga telah memilki 35 karyawan di empat cabang Cake Pisang Villa yang tersebar di beberapa wilayah di Batam.

Kesuksesannya bukan diawali modal dari orang tua melainkan dari modal yang hanya berlandaskan mental dan keyakinan. ”Semua pekerjaan, sebaik apa pun baik itu pengusaha atau pegawai pemerintahan, tidak ada yang aman, itu semua tergantung mental kita bagaimana menerima keadaan dari pekerjaan kita,” ujar pria lulusan Teknik Elektro Universitas Andalas Padang ini.

Kemudian, pria berkacamata tersebut mengungkapkan kisahnya setelah lulus dari perkuliahan di Padang tahun 2003 silam. ”Di kampus, saya termasuk murid yang pandai karena bisa menamatkan sekolah hanya dengan waktu 4,5 tahun dari fakultas teknik. Dari kampus saya direkrut menjadi assisten engineer di PT Casio yang ada di Batam. Dari situ saya sempat berkeyakinan dan optimistis saya akan sukses di bidang kuliah yang akan saya geluti nantinya, memiliki rumah, mobil dan barang yang bagus,” ujarnya mengenang masa lalu.

Namun dia berujar, bahwa apa yang dicita-citakannya dulu tidak seindah apa yang terjadi di dunia nyata setelah dia menghadapi secara langsung. ”Ternyata hidup itu susah dan jauh dari yang kita harapkan,” ujarnya.

Tahun 2004, dia menikah dengan wanita pujaannya bernama Selvi Nurlia. Di situ dia mulai sadar bahwa gajinya dari perusahaan tempat dia bekerja tidak akan sanggup menghidupi keluarganya sehari-hari, apalagi mewujudkan mimpinya untik memiliki rumah dan mobil. ”Setelah berkeluarga, saya kepikiran tidak akan lama lagi berhenti dari perusahaan ini,” katanya.

Awal usaha sampingannya dimulai ketika istrinya hamil besar. ”Saya sedih kalau mengingat ini, waktu itu saya kerja shift, kadang malam dan kadang pagi. Kalau kerja malam hari menggunakan motor butut, saya biasanya diantar sama istri sampai depan rumah, saya melihat dia dengan perutnya yang sudah besar mengantar saya, saya prihatin dan ada kecewa mengapa saya waktu kerjanya seperti ini. Di sinilah pembentukan mental saya, dimana harus ada penghasilan tambahan di luar kerja perusahaan,” ungkapnya.

Awalnya dia mendiskusikannya bersama istrinya. Sehingga sepulang dia bekerja, dia membeli kerupuk udang mentah cap Aloha. Sesampai di rumah, dia dan istrinya sama-sama bekerja. Mengerjakan penggorengan, membungkusnya ke plastik dengan memakai lilin, dan keesokan harinya membaginya ke restoran Padang yang ada di Batuaji. ”Saya melakukannya dengan cara konvensional, dan kompor yang saya gunakan memasak tersebut adalah kompor hadiah pernikahan pula,” ujarnya terkenang sambil tertawa.

Sukses dengan usaha sampingan tersebut, dan dia bisa menghasilkan lebih besar dari gaji bulanannya di perusahaan selama empat bulan. Tiba-tiba istrinya minta berhenti karena kecapekan. ”Saya maklum karena pada waktu itu dia hamil dan pasti ada titik jenuhnya,” ungkapnya.

Denni mengatakan walau pun istrinya meminta berhenti, namun keinginannya untuk mendapat hasil yang lebih timbul terus dalam benaknya. Setelah istrinya melahirkan, dia pun membuat usaha sampingan lagi yakni membuat kue klepon. Dengan dibantu istrinya dia menjual kue tersebut ke beberapa perusahaan di Mukakuning dekat dengan perusahaan tempat dia bekerja.

”Saya membagikannya dengan cara menitipkannya di kantin beberapa perusahaan seperti Epson, Casio sebelum saya berangkat kerja. Kemudian sore saya ambil lagi, dan Alhamdulillah, hasilnya lumayan. Kalau dihitung, ada lebih besar dari dua kali gaji saya di perusahaan perbulannya,” ujarnya.

Dari pengalaman usaha kecil-kecilan yang bisa menambah pendapatan lebih besar dari gajinya di perusahaan tersebut, akhirnya Denni memberanikan diri dengan kesiapan mental mengundurkan diri dari perusahaan tempat dia bekerja tahun 2006.

Berhentinya dia dari pekerjaannya, dia kepikiran membuka rumah makan Padang di kawasan Batuaji.Modal yang dia dapat dari bank sebesar Rp10 juta, dia gunakan semuanya memajukan rumah makan tersebut. Mulai merekrut karyawan dengan sistem pembagian hasil fifty-fifty. Namun kali ini usahanya tidak berjalan sesuai rencananya. Hanya bertahan dua bulan, rumah makan tersebut tutup. ”Tutup dengan sempurna namun tidak rugi-rugi amat karena saya kembali menjual peralatan masak rumah makan tersebut dan mendapat hasil penjualan sekitar Rp3 juta waktu itu,” ujarnya kembali mengenang.

Dalam keterpurukan, akhirnya dia mulai banyak membaca buku mengenai kiat sukses dalam kewirausahaan dan mengelola marketing yang baik. ”Akhirnya saya tahu, ternyata ada juga usaha yang diawali tanpa modal uang sepeser pun. Ibarat ayam yang keluar kandang, pasti dia mendapat makanan dan membawanya pulang,” ujarnya seperti dikutip dari Batam Pos.

Denni dan sang istri akhirnya mulai membuktikan kata-katanya dengan kembali membuka usaha event organizer dengan nama Media Kreasi Bangsa. Proyek awal mereka yakni menjadi EO dalam hari anak nasional yang diadakan di Mega Mall Batam Center. Tanpa membayar sepeser pun kepada MMBC, dengan syarat harus meramaikan mall, akhirnya diadakan lomba balita sehat dengan sponsor dari produk susu balita. Acara tersebut berjalan sukses dan mencatat sejarah pertama sekali mall tersebut mendapat pengunjung paling ramai serta mendapat keuntungan lumayan besar sehingga bisa membuat dia dan istrinya mudik ke Padang, Sumatera Barat.

”Di kampung saya sadar, ternyata berbisnis di EO ini rezeki harimau, sekali sukses untung besar dan sekali gagal, pasti hasilnya tak terperikan. Kemudian saya kepikiran membuka usaha yang bisa menghasilkan gaji harian,” masih kata Denni. Membuka usaha jualan kek pisang yang diawali dari hobi istrinya membuat kue tersebut, bukan langsung sukses. Semua butuh proses menuju sukses, seperti yang dikatakan Denni. Diawali dengan menggunakan oven sederhana, demikian juga pemasarannya diawali dengan pembagian brosur sederhana ke berbagai perusahaan, dengan harga awal kala itu Rp15 ribu. ”Selagi badan masih bergerak, Insya Allah, Tuhan akan memberikan pintu rezeki bagi kita umatnya,” kata Denni bijak.

Denni menambahkan, dia masih mengingat order pertama pesanan keknya sebanyak 40 loyang, sehingga mengakibatkan dia dan istri begadang semalaman menyelesaikan pesanan tersebut. ”Waktu itu loyang masih yang kecil, yang muatannya 4 kotak sekali panggang,” ujarnya.

Sukses dengan pesanan tersebut, akhirnya dia mulai merambah perusahaan yang lain, dan sukses pula sehingga dia mampu membeli loyang berkapasitas 20. Hal tersebut, membuat kondisi rumahnya yang di Batuaji berantakan dan dipenuhi alat pembuatan kue serta bahan-bahannya seperti gula dan tepung dalam karung.

Mulai banyak yang memesan, akhirnya Denni membuat buku kas dan buku tabungan supaya mengetahui berapa pengeluaran dan pemasukan dari pembuatan kue tersebut. ”Setelah saya membuat buku kas saya tersebut, saya dan istri mengajukan peminjaman sebesar Rp 40 juta ke salah satu bank dan mereka menyetujuinya. Itulah kredit awal pengembangan Cake Pisang Villa buatan kami,” tandas Denni.

Dari modal tersebut, Denni mulai memasang spanduk di pinggir jalan guna memasarkan produknya dan menyebar berbagai brosur, serta membentuk mitra sukarela memasarkan usahanya ke berbagai kantor pemerintahan seperti PLN, Otorita Batam, Pemko Batam, dan lain-lain. Akhirnya Denni berhasil mendapatkan omset perhari sebesar Rp2 juta.

Namun usahanya tersebut sempat tidak berjalan mulus. Para pekerja perusahaan ada yang bosan, sehingga kapasitas pesanan kue tersebut menurun. Denni bersama sang istri tidak pernah menyerah dan bahkan menjadikan kek pisang tersebut menjadi oleh-oleh khas Batam. ”Kita membuat brosur, pasang billboard dan berusaha memajukan Batam melalui makanan khas. Memang ini sudah biasa, namun yang menjadi kerinduan saya bagaimana menjadikan yang biasa menjadi luar biasa, yang bisa meningkatkan pariwisata Batam,” ungkap ayah dari Faza Mutiara Dewi dan Fatanurahman Deni ini.

Akhirnya, dalam waktu singkat bisnis kek pisang tersebut mulai merangkak naik, dan akhirnya sukses sampai sekarang. bahkan diakui Denni, saat ini banyak bank yang berlomba memberikan pinjaman kepadanya. Dia juga sering mendapat kehormatan dan meraih penghargaan di bidang investasi dan kewirausahaan serta sukses juga membuka cabang di empat daerah di kota Batam yakni di Batam Center, Nagoya, Penuin dan Batuaji.

”Intinya itu semua adalah kesiapan mental dari diri kita sendiri. Karena memperoleh kesuksesan harus siap dengan segala tindakan dan risiko serta butuh pengorbanan,” ungkapnya.(vaa)

KataWarta.COM