AYOPRENEUR.COM

Tips Untuk Memulai Investasi

15 Dec 2016 Hits : 721

Sekarang eranya berinvestasi. Kalau ditanya, ‘kenapa?’ pasti banyak yang bisa menjawab, ‘Tingkat inflasi mengalahkan suku bunga tabungan dan deposito kita. Hanya investasi yang bisa mengalahkan tingkat inflasi.’ Ada yang benar-benar memahami kaitan antara inflasi dan suku bunga, dan tidak sedikit yang hanya menyitir ucapan para ahli perencana keuangan.
 
Namun, saat seseorang ingin memulai berinvestasi, biasanya ada berbagai rentetan kebingungan yang dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi?’, ‘jenis investasi apa yang harus dipilih?’, hingga ‘berapa banyak uang yang harus disisihkan untukdiinvestasikan?’, adalah beberapa di antara banyak pertanyaan yang umumnya berkecamuk di pikiran para calon investor. Atau jangan-jangan Anda pernah bertanya hal yang serupa pula?
 
Bila kebingungan itu terus berlanjut, mungkin Anda tidak akan pernah bisa memulai berinvestasi. Agar tidak berkutat dengan kebingungan-kebingungan tersebut, berikut adalah empat tip yang bisa Anda jadikan patokan untuk memulai berinvestasi.
 
Apa yang Anda harapkan dari investasi itu?
Coba mulai dengan menjawab pertanyaan di atas. Secara mudah Anda akan bisa menjawabnya, karena tentu Anda sudah memiliki tujuan untuk investasi yang akan dijalani. Misalnya, persiapan dana pensiun, bujet pendidikan anak, membeli rumah, atau hal lainnya. Nah, dari masing-masing tujuan tersebut Anda akan mengetahui jangka waktu investasi yang dibutuhkan, seperti jangka pendek, menengah, atau jangka panjang. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan gambaran mengenai berapa lama target investasi akan dilakukan dan jenis investasi yang cocok sesuai usia Anda saat ini.
 
Langsung atau tidak langsung?
Memakai teori yang ada, investasi terbagi dua jenis yaitu investasi langsung dan investasi tidak langsung. Untuk investasi langsung, Anda akan memegang bukti fisik investasi yang dilakukan. Contoh, membuka bisnis, membeli properti, atau membeli logam mulia. Sebaliknya, untuk investasi tidak langsung, sebagai investor Anda tidak akan memegang bentuk fisik investasi. Anda hanya memiliki tanda bukti atau sertifikat kepemilikan investasi. Contohnya adalah saham dan reksa dana. Nah, pilihan disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan.
 
Mau untung besar atau aman?
Menjawab pertanyaan tersebut tentunya Anda cenderung akan menjawab keduanya, yaitu untung besar dan aman. Sayang, hukum umum dalam investasi adalah “high return, high risk”, Jadi, hasil investasi yang tinggi akan sebanding dengan risiko yang tinggi pula. Begitu pula sebaliknya. Di sinilah perlunya Anda mengetahui setiap risiko yang ada pada produk investasi yang dipilih. Bagaimana caranya? Cari tahu lebih banyak tentang informasi keuangan dengan mengikuti forum finansial atau tanya ahli.
Jika diperlukan, carilah penasihat keuangan yang bisa membantu Anda mengetahui portofolio pribadi dan mengenali jenis-jenis investasi secara lebih dalam. Dengan begitu, Anda akan bisa mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui profil risiko Anda dan bisa memilih jenis investasi sesuai karakter yang Anda miliki.
 
Berapa uang yang wajib dialokasikan?
Jawaban dari pertanyaan itu memang relatif. Tetapi, bukan berarti Anda harus mengorbankan bujet wajib bulanan hanya untuk memulai sebuah investasi.
Memang, setiap investasi selalu butuh modal. Namun, agar aman uang yang digunakan mesti uang yang betul-betul tidak dipakai (idle money). Jadi bukan menggunakan tabungan atau bahkan menggunakan dana darurat. Jika harus menyisihkan pendapatan untuk berinvestasi, idealnya sisihkan 10% dari pendapatan yang Anda miliki. (bn)

KataWarta.COM