AYOPRENEUR.COM

Inilah Cara Menghitung Potensi Keuntungan Reksa Dana

22 Dec 2016 Hits : 1,879


Berapa return dari investasi pada reksa dana? Tidak jarang ini ditanyakan oleh orang atau juga investor reksa dana. Bagi yang baru ingin memulai investasi, tentunya ingin sekali mengetahui berapa kira-kira keuntungan yang bisa didapat dari sebuah investasi.

Namun, seperti yang seharusnya semua orang ketahui, dalam berinvestasi pada saham dan reksa dana, kita tidak bisa mematok sebuah kepastian hasil investasi atau imbalnya.

Berbeda dengan kita berdeposito pada bank, kita sudah mendapatkan nilai kesepakatan bahwa bila kita depositokan uang selama “X” bulan maka saya akan dapatkan bunga sebesar “Y” persen.

Kepastian akan imbal investasi juga bisa kita dapatkan bila kita berinvestasi pada surat utang atau obligasi. Pemerintah pun membuat surat obligasi ritel yang dikenal dengan ORI salah satunya, dan juga memberikan kepastian nilai di awal kita membelinya.

Risiko yang kita hadapi dari deposito dan obligasi adalah bila penerbitnya bangkrut. Jadi pada deposito, risiko terburuknya adalah banknya tutup, sedangkan obligasi, risiko terburuknya adalah perusahaan, institusi, atau negara yang menjanjikan membayar surat utang dan kuponnya (dalam obligasi bunga dikenal sebagai kupon) tidak lagi beroperasi. Misalnya, untuk skala negara yang menunggak membayar surat utangnya saat ini adalah Yunani.

Baiklah, kembali pada reksa dana, singkatnya reksa dana akan mengalami kenaikan dan penurunan seiring dengan waktu. Dalam konteks reksa dana ini, terdapat empat jenis reksa dana yang umum ada, yaitu reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham.

Akhirnya, apa yang dapat disampaikan adalah mengenai potensi keuntungan reksa dana yang secara historis pernah terjadi, karena keuntungan di masa depan tidak bisa kita ketahui dengan pasti.

Menjadi sebuah pertanyaannya adalah: “Apakah dengan mengetahui keuntungan masa lalu dari sebuah reksa dana bisa mencerminkan keuntungannya di masa depan?”

Analogi yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut, andaikan ada sebuah tim sepakbola yang telah menjuarai pertandingan selama 10 kali beruturut-turut maka potensi di pertandingan ke 11 untuk menjadi juara lebih besar, tapi apakah pasti juara? Apakah bisa juara kedua? Apakah justru tidak mendapat juara? Semua kemungkinan ada, namun kita memiliki bayangan kinerja ke depan berdasarkan kinerja masa lalunya.

Bila kita berinvestasi setiap awal bulan dengan sejumlah uang tertentu selama 5 tahun (60 bulan), maka dari 15 reksa dana saham yang sudah ada semenjak tahun 2004, nilai rata-rata hasil investasi selama 5 tahun adalah 61,45 persen.

Atau dengan ilustrasi kita berinvestasi Rp 1.000.000 setiap awal bulan selama 5 tahun yaitu Rp 60.000.000 maka uang kita akan menjadi Rp 96.870.000.

Apakah tampak besar atau kecil bagi Anda?

Tanpa pembanding, kita tidak akan bisa menentukan apakah imbal hasil tersebut besar atau kecil. Mari kita bandingkan.

Pembanding pertama adalah bila kita melakukan deposito di sebuah bank setiap bulan Rp 1.000.000, maka untuk mendapatkan hasil investasi sebesar Rp 96.870.000 selama 5 tahun maka saya perlu mencari bank yang tidak mengenakan beban pajak dengan bunga per tahunnya adalah 17,7 persen.

Atau bila Anda memiliki uang hari ini sebanyak Rp 60.000.000 karena Anda tidak mau ambil pusing berinvestasi setiap bulan Rp 1.000.000 harus Anda setorkan sebanyak 60 kali, maka Anda mendepositokan uang disebuah bank yang mau memberikan Anda bunga 9,62 persen tanpa terkena potongan pajak dan biaya.

Tampaknya potensi berinvestasi pada instrumen pasar modal memiliki nilai imbal hasil jauh lebih besar dibandingkan yang memberikan kepastian bunga. Memang hasil keuntungan masa lalu tidak mencerminkan hasil di masa depan, namun mari kita kembali mengingat analogi yang tadi diberikan. (as/kompas.com)

KataWarta.COM