AYOPRENEUR.COM

Membangun Jiwa Pebisnis Tulen Sejak Sekolah Dasar

11 Jan 2017 Hits : 1,399

Inilah cerita tentang bagaimana jiwa-jiwa pebisnis bisa mulai dibangun atau ditumbuhkan sejak dini, dari masa anak-anak saat duduk di bangku sekolah dasar.

Pebisnis tulen, tentunya. Bukan pebisnis yang menghasilkan kapitalisme semu, sebagaimana pernah menggejala di bumi Asia Tenggara, seperti diungkapkan Yoshihara Kunio, dalam bukunya bertajuk Kapitalisme Semu Asia Tenggara.

Buku yang sempat dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung karena dianggap menghina Presiden Soeharto ini mengaitkan gaya pemerintahannya dengan gaya diktator.

Ringkas kata, Kunio menulis, pebisnis di Asia Tenggara bukanlah pebisnis yang lahir karena kekuatan dirinya tapi karena bantuan kekuasaan politik.

Nah, agar tidak melahirkan pengusaha karbitan, cerita tentang ikhtiar mencetak pebisnis tulen yang disampaikan oleh Iwan Hartawan, konsultan manajemen dan motivator bisnis, ini disampaikan di berbagai forum pelatihan usaha.

Mengajarkan anak berbisnis sejak kecil adalah kiat paling ampuh untuk menjadikan seseorang kelak memiliki daya dan mental yang tangguh menghadapi persaingan.

Dia mencontohkan tentang anaknya sendiri yang dilatih menjadi penjual es ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Suatu hari sang anak disuruh membawa es dan menjualnya di sekolah. Tiap es dijual dengan harga seribu rupiah. Hari pertama, sang anak pulang ke rumah dengan semua es habis tapi sang anak tak membawa uang sepeser pun.

Anak itu cerita bahwa hari pertama penjualan es di sekolah merupakan hari promosi sehingga tak satu pun ada anak yang membeli.

Hari kedua, es juga habis tapi uang yang terkumpul tidak sesuai dengan jumlah es yang terjual. Untuk masalah ini, sang anak bercerita bahwa sebagian besar teman-temannya sengaja mengutang.

Hari ketiga, Iwan bilang pada sang anak bahwa untuk selanjutnya, tidak boleh ada yang utang lagi karena kesempatan utang sudah diberikan pada hari kedua.

Persoalan muncul ketika ada anak-anak yang nakal, yang jagoan dan secara fisik lebih besar dari si penjual es, yang tetap akan memaksa utang lagi. Dalam menghadapi persoalan ini, Iwan mengatakan pada anaknya: Nak, sekali-kali kamu boleh berkelahi. Bukankah kamu selama ini tak pernah berkelahi? Lagian untuk apa kamu berlatih bela diri tanpa pernah kamu coba praktikkan melawan teman-temanmu yang nakal itu?

Begitulah kisah bagaimana mentalitas pebisnis tangguh bisa dimulai sejak dini. Banyak hal yang bisa ditumbuhkan dalam latihan selama tiga hari itu.

Pertama-tama, anak sudah diajarkan bahwa dalam berbisnis, selalu ada aspek promosi. Promosi adalah bagian penting dalam pengenalan produk kepada konsumen. Tanpa promosi, konsumen tak bisa merasakan terlebih dulu kualitas produk yang ditawarkan.

Yang kedua, anak sejak dini sudah dihadapkan pada kenyataan hidup bahwa selalu ada konsumen yang membeli dengan utang. Dalam transaksi bisnis, utang merupakan kelaziman. Penjual yang tak memberikan utang akan kalah dalam meraih target omzet dibandingkan dengan penjual yang mengizinkan pelanggan berutang.

Pelajaran penting ketiga adalah siap berhadapan dengan pengutang yang nakal yang sengaja melakukan tindakan kekerasan tanpa mengindahkan etika. Penjual di sini dituntut punya nyali menghadapi konsumen-konsumen kategori brengsek ini.

Secara tak langsung ada pesan penting di sini: untuk menjadi orang yang berhasil, harus ada syarat ideal antara kekuatan mental dan jasmani. Dari awal, anak juga dididik untuk menjaga fisiknya menjadi anak yang kuat dan berani.

Jika mentalitas tangguh semacam ini dipupuk sejak kecil, dijamin bahwa kelak ketika sang anak menjadi pebisnis beneran akan terbiasa menghadapi persoalan-persoalan dunia usaha.

Tentu latihan bisnis dasar itu adalah fondasi elementer yang harus dilanjutkan dengan latihan untuk kreatif dan inovatif. Sebagaimana dinyatakan oleh Kunio, kaum pebisnis yang di luar kategori semu adalah pebisnis yang sukses karena kreativitas dan inovasi yang dimilikinya.

Para pebisnis Jepang dan negara-negara maju umumnya, yang bukan masuk kelas kapitalisme karbitan, adalah pengusaha yang selalu memperbarui diri dengan temuan kreatif dan inovatif mereka.

Di sinilah pentingnya seorang anak untuk belajar secara terus-menerus antara teori dan praktik lapangan. Pengetahuan teoritis yang tak dipraktikkan hanya akan menjadi tumpukan pengetahuan yang tak memicu daya kreatif dan inovatif.

Iwan tak ingin pebisnis yang akan datang mengulangi cerita lama yang hanya menghasilkan pebisnis karbitan. Mereka ini besar karena adanya topangan kekuasaan seperti mendapat hak monopoli atau hanya sekadar menjadi pemburu rente.

Sebelum reformasi, simbiose mutualisme antara pengusaha dan penguasa begitu menonjol dan menggejala. Diharapkan reformasi mengubah jalannya sejarah dengan hilangnya pebisnis karbitan yang mengandalkan topangan politik.

Fakta bahwa setelah reformasi masih ada pengusaha karbitan, terutama di tingkat elite, memang tak bisa dimungkiri. Namun, reformasi juga membuka peluang yang leluasa bagi lahirnya wiraswastawan atau entrepreneur yang tangguh.

Iwan telah mengklaim melahirnya banyak pebisnis tingkat akar rumput yang bisa menghasilkan uang jauh lebih banyak dibandingkan gaji rata-rata pegawai negeri atau karyawan kantoran.

Seorang pedagang sop durian, ibu-ibu penjual nasi pecel madiun, bisa memperoleh penghasilan yang tak bisa dibilang kecil. Untuk menjadi pebisnis yang mujur tentu modalnya adalah mau berkeringat.

Tampaknya, resep Iwan dan Thomas Alva Edison sama dan sebangun. Bakat itu cuma sepersen selebihnya adalah mau kerja keras. Dan momen berlatih kerja keras yang ideal adalah saat seseorang masih duduk di bangku sekolah dasar. (as)

KataWarta.COM