AYOPRENEUR.COM

Pentingnya Logika Dalam Berbisnis

16 Feb 2017 Hits : 1,419

Bisnis itu memang membutuhkan proses, perjuangan, dan kesabaran tingkat tinggi. Namun jangan pula diingkari yang namanya bisnis juga harus logika. Logika seperti apa maksudnya? Segala yang menghasilkan uang itu disebut bisnis. Nah, ketika bisnis yang digeluti itu tidak menghasilkan uang. Berarti ada yang salah dengan bisnis ini.

Lalu salahnya ada di mana? Ada 2 faktor, pertama produk (barang atau jasa) dan pebisnis itu sendiri. Jika berkaitan dengan produknya, biasanya ditandai dengan produk tersebut tidak bisa menghasilkan keuntungan. Kalau memang paham dengan bisnis pasti tahu, produk apa saja yang laku di pasaran. Dan produk apa yang tidak laku.

Namun ada pula pengusaha atau pebisnis yang berani membuat terobosan terbaru, yaitu menciptakan produk yang belum pernah ada di pasaran. Kemungkinan produk seperti ini bisa sukses besar pada waktunya. Ada banyak contohnya pelopor produk di negeri ini merajai pasar karena dialah yang pertama kali merintisnya. Awalnya banyak yang menilai mustahil produk itu laku, namun perusahaan itu membuktikannya, bahwa produknya laku di pasaran.

Itu soal produk, lain halnya dengan pelakunya. Suatu bisnis yang tidak bisa menghasilkan uang bisa jadi salahnya pada pebisnisnya. Mungkin karena tidak cakap berbisnis atau ilmu marketingnya yang minim. Bahkan parahnya, produk yang super laku pun kalau dimarketingkan dengan pebisnis yang satu ini tetap tidak laku.

Nah, jika pebisnis itu memang cakap, ilmu marketingnya memang mumpuni, terbukti memarketingkan barang apa saja bisa laku, namun ketika memegang produk yang baru tidak laku. Berarti yang bersalah adalah produknya, bukan orangnya. Bisnis yang identik dengan jualan misalnya, kalau sudah menawarkan produknya sebanyak 50 orang (calon pembeli yang kompeten), dan tidak ada satu pun produk yang laku, berarti produk itu memang tak laku. Selesai menyimpulkannya.

Kalau masih banyak alasan ini-itu, wajar, apalagi perusahaan dan kaki tangannya. Ya, mana terima dibilang produknya tak laku. Kalau mengakuinya, langsung gulung tikar deh. Siapa pula yang mau menjalin kerjasama untuk menjual produk yang tak laku. Hanya menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan uang. Bisnis juga harus logika, tidak bisa hanya bermodal optisme saja. Optimisme tidak diiringi kecerdasan juga tidak menghasilkan apa-apa.

Tahukah Anda kenapa orang miskin tetap miskin, padahal kerjanya terkadang sampai 16 jam sehari? Dan penuh dengan semangat dan ikhlas menjalaninya. Tapi tidak ada perubahan sepanjang hidupnya. Contoh seperti ini sungguh banyak di negeri kita, Indonesia Raya. Penyebabnya apa? Karena mengabaikan cara berpikir logika. Semua diserahkan begitu saja, mungkin pada nasib, atau pada Tuhan, Allah SWT.

Fungsi otak pada manusia untuk berpikir, menimbang, untuk mengambil sebuah keputusan. Di antaranya adalah mengambil keputusan untuk berbisnis yang akan menjual produknya. Sayangnya ambisi terlalu tinggi dari akal. Akibatnya salah langkah, memilih bisnis yang salah bisa membuat kita tidak bisa mengubah nasib. Begituuu saja terus.

Kita sepakat bahwa bisnis juga butuh kesabaran, keuletan, kegigihan, dan kata-kata bijak lainnya yang sering untuk memotivasi. Namun ya itu tadi, produk yang dijual bisa laku tidak? Kalau tidak, apa harus dilanjutkan bisnis seperti itu? Kalau boleh saran, maka tinggalkan bisnis seperti itu! Sekarang juga.

Di dunia bisnis, kita juga tidak boleh terlalu lugu, terlalu lugu ketipu sama pemain nakal.

Ada memang sebuah perusahaan yang memasarkan produknya butuh mitra kerja. Produk yang dijual ini biasanya susah lakunya, itulah sebabnya merekrut orang sebanyak-banyaknya dengan segala iming-iming yang menghilangkan logika. Kalau kita sedikit kritis, kenapa tidak dipasarkan sendiri saja produknya, kenapa harus memakai kaki tangan lagi untuk menjual produknya. Seharusnya ini adalah pertanyaan besar bagi yang kritis terhadap bisnisnya.

Dan biasanya juga bisnis seperti ini tidak pakai modal dan syarat. Siapa saja yang mau bergabung dipersilahkan. Namun begitu ada secara khusus pelatihan pada anggotanya, gunanya pelatihan tersebut untuk menempah mental anggotanya agar kuat di lapangan, dan juga pelatihan marketing produk dan merekrut calon anggota lainnya.

Berbulan-bulan diikuti, ternyata tidak menghasilkan apa-apa, alih-alih mendapatkan keuntungan, malah kebanyakan modal keluar dari pemasukan. Bagaimana tidak buntung, jika produk yang dijual saja tidak laku.

Apakah bisnis seperti ini dipertahankan? Butuh keuletan dan kesabaran apa lagi? Secepatnya tinggalkan! Mulailah mencari bisnis yang logika, dan itu menghasilkan keuntungan langsung, tidak pakai lama. Sekali menawari produk pada satu, atau dua orang langsung dibungkus. Itu namanya bisnis. Bisnis yang sehat adalah produk yang dijual laris manis. Bukan sebaliknya, mencari segala alasan bahwa produk itu belum laku.(vaa/asmarainjogja)

KataWarta.COM