AYOPRENEUR.COM

Tinggi, Permintaan Hunian di Kota Medan

11 Jan 2017 Hits : 952

Meski belum seheboh di Jakarta, pergerakan bisnis properti (www.properti.net) di kota Medan dalam beberapa tahun terakhir tampak terus menggeliat. Pengembangan kawasan-kawasan komersial dilakukan di sejumlah lokasi yang ditandai dengan pembangunan pusat-pusat belanja modern. Pembangunan untuk hunian juga tidak kalah dengan dikembangkannya perumahan-perumahan kelas menengah hingga atas.

Bisnis properti di Medan memang terlihat ranum dan menarik untuk digarap. Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, permintaan properti di Medan tergolong tinggi. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, tak salah jika Medan diincar oleh investor, baik sebagai pengusaha maupun sebagai konsumen yang ingin berinvestasi di properti.

Menurut konsultan properti Colliers International Indonesia, Medan tergolong kota yang pertumbuhan industri propertinya sangat pesat selain Surabaya, Bandung, Pekanbaru, Balikpapan, Solo dan Yogyakarta. Sebagai ibukota Sumatera Utara, Medan merupakan commercial and business hub untuk pulau Sumatera. Tak kurang dari delapan proyek berskala multifungsi yang sedang dalam konstruksi. Proyek-proyek tersebut memiliki varian berbeda, mulai dari pusat belanja, hotel, apartemen, trade center, ruko, hingga kondominium-hotel.

”Saat ini ada anggapan, Medan itu bukan hanya sebagai ibukota Sumatera Utara tapi juga dianggap sebagai ibukotanya Aceh. Sejak dilanda tsunami dan masih gencarnya isu mengenai kelompok GAM di sana, banyak orang Aceh yang memilih Medan sebagai tempat berinvestasi. Apalagi pembangunan di Aceh itu tidak sehebat di Medan,” jelas Adi Ming E, Direktur Utama BP Group, pengembang lokal asal Medan yang sukses dengan sejumlah proyek properti di Medan dan sekitarnya.

Dengan jarak yang tidak begitu jauh, tak sedikit masyarakat Aceh yang memilih Medan sebagai tempat berlibur di akhir pekan. Mereka merupakan konsumen yang didominasi segmen kelas menengah ke atas dengan harga properti yang tergolong tinggi. Mereka datang ke Medan pada hari Jumat dan berlibur hingga hari Minggu.

Adi Ming mengaku, lebih dari 25 persen konsumen yang membeli proyek-proyek yang dikembangkan BP Group berasal dari Aceh. Umumnya mereka membeli sebagai investasi dan ada juga yang disewakan. Sisanya beragam, ada yang berasal dari Medan dan kota-kota di sekitarnya serta kota-kota lainnya termasuk Jakarta. Bagi masyarakat Aceh, investasi properti di Medan menjadi pilihan yang menarik dan menguntungkan.

Selain dari Aceh, pembeli properti di Medan juga berasal dari kota-kota sekitarnya seperti Rantau Prapat, Pematang Siantar, Tebing Tinggi dan daerah lain yang menjadi sentra perkebunan sawit di Sumatera Utara. Berbeda dengan masyarakat Aceh yang membeli properti untuk investasi, pembeli dari sekitar Medan umumnya membeli rumah untuk anaknya yang sekolah dan kuliah di Medan.

Dikembangkannya Bandara Internasional Kuala Namu Internasional yang merupakan bandara terbesar kedua setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, ikut mendorong makin menariknya kota Medan sebagai daerah untuk berinvestasi. Bandara yang bediri di atas lahan seluas sekitar 1.300 hektare itu, ditargetkan bisa menampung penumpang hingga 16 juta orang per tahun. Dan bila tiga tahapan pembangunan pada tahun 2023 selesai, maka Kualanamu mampu menampung hingga 22 juta penumpang per tahun.

Gurihnya industri properti di Medan, juga menarik minat pengembang-pengembang besar dari Jakarta untuk melebarkan sayap bisnisnya. Masih tingginya permintaan dan daya beli masyarakat untuk properti di Medan, menjadi faktor yang mendorong beberapa pengembang besar tersebut ikut menggarap bisnis properti di Medan.

 

Untuk mendapat berita properti terkini, silakan kunjungi Properti.net

KataWarta.COM