AYOPRENEUR.COM

John H. McGlynn Ingin Tampilkan Wajah Terbaik Sastra Indonesia di Dunia

16 Mar 2015 Hits : 980

Dalam banyak bidang, pola pikir dan perilaku bangsa Indonesia perlu perubahan. Salah satu bidang yang juga memerlukan perubahan besar itu tetapi tidak banyak dilirik adalah kekayaan budaya yang mencakup khasanah susastra asli bangsa ini. Seperti yang terjadi dalam bidang perdagangan antarnegara, Indonesia dalam bidang budaya dan susastra juga cenderung lebih giat menjadi importir daripada eksportir. Kenyataan ini dapat dilihat dari banyaknya buku-buku terjemahan karya penulis mancanegera yang membanjiri toko-toko buku kita. Sebaliknya, karya-karya penulis Indonesia malah jarang sekali yang dikenal para pembaca dunia, alih-alih mendapatkan apresiasi yang tinggi dari mereka.

Ditemui di kantor Yayasan Lontar Jakarta Pusat, John H. McGlynn membagikan gagasan dan upaya-upayanya dalam mengubah mentalitas importir menjadi eksportir susastra tersebut melalui penerjemahan karya-karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris agar dapat dikonsumsi oleh para pembaca global. Di sela kesibukannya menyiapkan para peserta dari Indonesia dalam ajang bergengsi Frankfurt Book Fair (FBF) tahun ini, McGlynn (MG) menemui CiputraEntrepreneurship.com (CE). Berikut petikan wawancaranya.

CE: “Apa yang tengah Anda kerjakan saat ini?”

MG: “Kami sedang mempersiapkan diri menyambut FBF. Saya bagian dari komite nasional yang bertugas untuk memastikan Indonesia mempersembahkan ‘wajah terbaiknya’ di ajang tersebut. Sayangnya, kami agak terlambat dalam memulai persiapannya, terutama dalam hal pendanaan dan penerjemahan karya. Kami seharusnya sudah memulai persiapan sejak 3 tahun sebelumnya.”

CE: “Adakah tantangan besar dalam menggarap persiapan FBF?”

MG: “Ini harus disiapkan dalam jangka panjang. Bertahun-tahun sebelumnya. Karena para penerbit tak bekerja secara instan, setidaknya dibutuhkan waktu 2-4 tahun. Buku-buku yang akan dikirimkan pun perlu diterjemahkan dan prosesnya butuh kurang lebih setahun. Tapi kali ini kami bekerjasama dengan pemerintah yang proses persiapan dan penerjemahannya hanya dalam setahun saja.”

CE: “Masalah apa yang dihadapi oleh penerbit?”

MG: “Mungkin ini tidak bisa disebut sebagai ‘masalah’ tetapi para penerbit kita masih berfokus pada pembelian hak cipta (penerbitan dan penerjemahan) karya-karya luar negeri daripada penjualan hak cipta karya-karya dalam negeri. Padahal kita harus sadari bahwa di sini saja masih banyak konten yang bisa dijual ke luar negeri. Ini akan menjadi perubahan yang baik karena jika kita ingin berada dalam pasar global, arahnya tidak cuma satu saja.”

CE: “Bagaimana menurut Anda tentang produktivitas para penulis Indonesia?”
MG: “ Tak ada masalah dalam hal produktivitas. Banyak penulis di sini apalagi Indonesia negara yang berpenduduk begitu besar tetapi berapa dari mereka yang bisa sukses menembus pasar global? Banyak pihak yang menganggap Indonesia sebagai pasar buku yang potensial tetapi jika kita ingin menampilkan Indonesia sebagai sebuah negeri dengan sejarah sastra yang panjang dan kaya, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Beberapa penulis Indonesia memiliki karya yang sudah diterjemahkan, seperti Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari. Semuanya melalui Lontar, tetapi kami bukan penerbit internasional jadi pengaruhnya tak seluas, katakanlah, penerbit besar di Jerman. Masalahnya bukan kurangnya penulis tetapi kurangnya promosi dan pemasaran konten sastra Indonesia. Itu belum banyak dilakukan. Saya harap FBF bisa mengubah kondisi ini.”

CE: “Dengan demikian, apakah para penulis Indonesia seharusnya mengubah diri menjadi lebih terbuka dan ’marketable’ seperti tren di dunia penerbitan saat ini?”

MG: “Saya tidak pikir harus seperti itu. Saya pikir para penulis menulis idealnya menulis untuk para pembacanya sendiri. Bisa jadi audiens itu adalah warga desanya di Jawa Barat, atau Jakarta atau bangsa Indonesia. Ia harus menulis untuk audiens yang ia ketahui. Ia tak bisa berpura-pura untuk menulis bagi audiens asing.”

CE: ”Dengan menulis untuk audiens yang ia ketahui, apakah penulis akan bisa menulis dengan lebih otentik?”

MG: “Ya. Penulis Indonesia tidak bisa berpura-pura menulis untuk audiens di New York. Yang kita butuhkan adalah para penulis Indonesia yang menulis tentang Indonesia.” (sumber foto: indonesiaexpat.biz/ap)

BACA JUGA

Ciputra

IKAMERS.COM JUAL BELI ONLINE GRATIS

KataWarta.COM