AYOPRENEUR.COM

Jan Kop: Resep Panjang Umur Saya Cabe Rawit!

16 Mar 2015 Hits : 1,091

Jan Kop memang bukan warga negara Indonesia atau orang yang terlahir di tanah Indonesia. Namun, ia memiliki ketertarikan dan ikatan yang demikian kuat dengan negeri yang pernah ia datangi sebagai serdadu Belanda di pertengahan abad ke-20.

“Saya itu agak skizofrenik. Di satu sisi, jiwa saya adalah orang Belanda. Di sisi lain, saya sangat cinta Indonesia,” jelas pria yang masih sehat dan bugar di usia 85 itu. Tanpa teks, ia memberikan sambutan yang segar dan spontan dalam acara pembukaan Pameran Foto “Semua Tentang Air” (All About Water) di Jakarta kemarin malam (14/3/2015).

Jan pernah menginjakkan kakinya di Jakarta menjelang masa revolusi kemerdekaan. Masih kuat dalam ingatannya suasana kota saat Jakarta masih memiliki populasi cuma 600 ribu jiwa. Dengan nada sentimentil, Jan berkisah tentang suasana Menteng yang menjadi pusat kota Jakarta. “Masih banyak orang berjalan dan berdagang yang membawa pikulan,” kenangnya.

Jakarta, kata Jan, sudah banyak mengalami banjir. Hanya saja, tidak separah sekarang saat lansekap kota lebih sesak dengan bangunan beton. Tiap kali ia berkunjung ke Jakarta, ia menyaksikan perubahan drastis dalam wajah kota. “Betapa berbedanya Jakarta saat ini dengan Jakarta di saat saya masih remaja.”

Sangat memahami seluk beluk manajemen air di Jakarta, profesor satu ini turut terlibat dalam penyusunan master plan manajemen air ibukota di tahun 1973. Master plan tersebut kemudian dijadikan panduan pemerintah DKI dalam membangun dan mengelola air.

Ia memiliki keprihatinan dengan kondisi Jakarta yang makin ‘tenggelam’. Untuk mencegah itu terjadi lebih cepat, Jan mengatakan harus dibangun segera ‘sea dyke’ atau yang kerap disebut sebagai ‘giant sea wall’ yang berfungsi untuk menahan gempuran gelombang air laut ke daratan Jakarta.

“Kita juga harus menghentikan pengambilan air tanah secara berlebihan jika ingin Jakarta tidak tenggelam,” terangnya. Eksploitasi air tanah secara masif membuat permukaan tanah Jakarta turun lebih cepat dari seharusnya. Solusi yang bisa ditempuh menurut pakar sanitasi lingkungan dan penanganan sampah ini adalah melarang warga menggunakan air tanah dan menggantinya dengan penyaluran/ distribusi air bersih dari bendungan atau waduk yang ada. Kondisi itu makin diperparah dengan kesadaran masyarakat Jakarta yang rendah untuk tidak membuang sampah di saluran air, sungai, reservoir dan waduk yang ada. Patut diakui, perilaku semacam inilah yang membuat banjir makin tidak terkendali, selain tentunya mencemari sungai dan lautan yang menjadi bagian penting dari ekosistem dunia.

Kecintaan Jan terhadap Indonesia tidak hanya ia buktikan dengan ikut memikirkan masalah-masalah lingkungan khas warga perkotaan di Jakarta, ia juga mengaku suka sekali satu jenis bahan pangan khas Indonesia: cabe rawit. “Tahun ini umur saya 85, dan tahu kenapa (saya bisa berusia panjang - pen), karena saya makan cabe rawit!” ia berseloroh. Selain cabe rawit, ia juga amat menikmati terasi.  (ap)

BACA JUGA

KataWarta.COM