AYOPRENEUR.COM

Dave Ulrich, Guru SDM Kelas Dunia

01 Apr 2012 Hits : 5,758

Sebuah momentum pada 30 tahun lalu mengubah jalan hidup Dave Olson Ulrich. Dia sebenarnya ingin belajar hukum. Saat berkonsultasi dengan seorang profesor yang juga mentornya, dia ditantang mempelajari organisasi. Bagaimana agar organisasi di tempatnya bekerja dan di lingkungannya menjadi lebih baik. Itulah awal langkah karier Ulrich yang dikenal sebagai guru dalam manajemen sumber daya manusia.

Majalah pengulas sumber daya manusia (SDM), HR Magazine, tahun lalu menempatkan pria kelahiran Ely, Nevada, Amerika Serikat, ini sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia soal sumber daya manusia (SDM). Ia juga meraih Nobles Colloquia, penghargaan atas kepemimpinan bisnis dan pemikiran masalah ekonomi.

”Saya senang bisa membantu para pemimpin atau organisasi agar lebih efektif dalam usahanya,” ujar Ulrich, pekan lalu. Dalam wawancara tertulis, dia mengaku terus mempelajari dan mendalami organisasi dan SDM sejak saat sang profesor menantangnya.

”Apalagi jika ada organisasi yang nyaris berantakan,” ujarnya. ”Kalau saya sedang makan malam dengan istri atau teman, saya sering mengajak manajer atau pemilik restoran ke meja kami dan berbincang, misalnya tentang bagaimana agar restorannya menjadi lebih baik,” kata Ulrich menambahkan.

Dia yakin, SDM yang andal mesti melalui latihan yang baik, disiplin, dan pendidikan. Itulah pula yang menjadi penentu kesuksesan dalam organisasi apa pun.

”Dalam organisasi, saya sangat mendukung adanya keseimbangan antara teori dan praktik,” ujar Ulrich yang humoris. Rasa humor itu muncul antara lain saat ia mengatakan, keharusan menjawab 15 pertanyaan sama artinya dengan menulis buku tentang dia. ”Cukup tujuh atau delapan pertanyaan saja, sisakan untuk saya,” tulisnya, saat membalas surat elektronik yang dikirim pertengahan Maret 2011.

Sebagai salah satu dari ”Lima Besar Dunia” Pembimbing Bisnis. Dia memastikan bahwa pendidikan dan karakter secara sendiri-sendiri turut menentukan kualitas SDM. ”Penelitian dilakukan pada dua pekerja kembar, ternyata karakter dan pendidikan masing-masing menentukan keberadaan SDM itu,” ujarnya.

Ulrich juga mengatakan, setiap manusia itu multidimensi. Pernyataan tersebut dia berikan setelah orang mengajukan gugatan, apakah lebih baik mempekerjakan orang dengan karakter yang baik tetapi kurang pintar atau sebaliknya, memilih orang pintar dengan karakter yang kurang baik.

”Ada orang pintar yang diperlukan untuk mengelola informasi dan bisa cepat mengambil solusi untuk masalah yang kompleks. Tetapi, orang dengan karakter baik diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain atau dalam hubungan sosial,” ujarnya.

Dia juga yakin bahwa karakter seorang pekerja bisa berubah, antara lain dengan pengalaman kerja. Sekitar 30 persen itu setelah mereka melalui latihan keahlian khusus yang bisa diterapkan, dan 20 persen lainnya lewat pengalaman hidup di luar pekerjaan, seperti bersama keluarga, di lingkungan, dan berbagai pilihan hidup lainnya.

”Pelajaran terbaik adalah dari pengalaman, ketimbang latihan. Sementara latihan yang efektif, yakni fokus pada pengalaman serta membantu pekerja menghadapi dan memperbaiki keahlian khusus mereka,” ujarnya.

Menurut Ulrich, predikatnya sebagai guru dalam SDM ini tak lepas dari kehidupan dalam keluarganya. Sang istri, Wendy, yang dinikahinya selama 35 tahun, ini adalah seorang doktor di bidang psikologi.

”Kolaborasi antara saya yang manajemen SDM dan Wendy yang psikolog membuat saya lebih kaya untuk mendalami dan memahami suatu organisasi,” ujarnya.

Ulrich dan Wendy tahun lalu menerbitkan buku yang mereka tulis berdua, Why of Work.

Buku ini menjelaskan banyak hal tentang pekerja dan pekerjaannya. Buku ini meraih best seller versi harian Wall Street Journal dan USA Today.

”Saya senang jika bicara soal keluarga,” ujar dia, ketika ditanya apakah keberatan bicara tentang hal yang merupakan wilayah personal. ”Wendy itu sahabat terbaik saya dan sangat terpercaya,” tambahnya.

Bagi Ulrich, istrinya juga seorang penasihat yang profesional. ”Makanya, kami bisa berkolaborasi menerbitkan buku Why of Work. Kami berdua sangat teguh dalam belajar, dan mengutamakan pendidikan,” ujarnya.

Lingkungan yang penuh dengan belajar dan pendidikan ini membuat anak-anak mereka juga mewarisi semangat serupa. Carrie, si sulung, adalah doktor psikologi. Monika belajar sosiologi, sementara Mike memilih bidang statistik.

”Kami juga keluarga yang memerhatikan masalah politik dan sosial. Ini menjadi topik hangat dalam kehidupan sehari-hari keluarga kami,” ceritanya.

Lalu, apa nasihatnya dari sisi SDM untuk menjawab kondisi korupsi di Indonesia yang sulit diberantas? ”Di sini diperlukan kepercayaan. Tanpa itu, rakyat tidak akan memberikan komitmen penuh mereka,” ujar Ulrich yang sudah menerbitkan 23 judul buku dan 173 artikel tentang SDM.

Kepercayaan itu, menurut dia, datang dari rakyat yang mendapat jaminan bahwa mereka akan dihargai sebagaimana mereka adanya. Untuk menghindari korupsi yang mengakar, pemimpin harus membuat keputusan keras guna mengubah budaya yang ada. Di sini diperlukan transparansi dan akuntabilitas.

Sebuah pepatah China menyebutkan, ”Jika Anda ingin makmur selama setahun, tanamlah gandum. Jika ingin makmur selama 10 tahun, tanamlah pohon. Jika Anda ingin makmur selama seabad, kembangkanlah SDM." (*/Kompas Cetak)
BACA JUGA

KataWarta.COM